Sahabat sekalian, sudah saatnya kita beralih ke Linux, sistem operasi yang gratis, open source, dan lebih stabil. Dulu kita tidak ada pilihan, mau tak mau menggunakan Windows buatan Microsoft, yang kalau beli yang original harganya mencapai ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Itu baru Windowsnya saja. Belum aplikasi lainnya semisal MS. Office, Corel Draw, Photoshop, dan sejumlah aplikasi lainnya. Dan kita terpaksa beli yang bajakan demi komputer kita memiliki aplikasi yang lengkap.

Sesuatu yang diharamkan (pembajakan) menjadi halal karena keterpaksaan dan tidak ada alternatif lain. Seperti beli software bajakan karena belum ada alternatif lain yang lebih murah bahkan gratis. Kini, setelah ada pilihan yang lebih baik, lebih murah, bahkan gratis, mengapa tidak kita beralih ke si Penguin (Linux) ini?

Pilih mana, Windows yang mahal, dan setelah terinstall kita harus menginstall driver dan sejumlah aplikasi yang kita butuhkan, atau Linux, yang operating system dan sebagian besar aplikasi yang kita butuhkan telah terinstall setelah kita selesai menginstall Linux? Bahkan waktu instalasi relatif lebih sebentar dari Windows dan aplikasi lainnya yang dapat memakan waktu berjam-jam, (Linux sekitar 40 menit).

Ayo, kita merdekakan komputer kita dari Operating system dan aplikasi bajakan, dan beralih ke OS yang gratis…! (mastio)


Bagi Anda yang memiliki komputer dengan dual operating sistem (Linux dan Windows) mungkin pernah kehilangan Grub (boot loader) Linux Anda sehingga ketika booting komputer Anda langsung masuk ke area boot MS Windows. Hal ini biasanya disebabkan karena instalasi Windows yang memformat terlebih dahulu hardisk/partisi Master Boot Record (MBR) di mana boot loader itu berada sehingga grub tidak tampil lagi saat start up atau eror.
Berikut ini adalah langkah-langkah yang ditulis untuk para pengguna Ubuntu, namun dapat juga digunakan untuk distribusi lain. Hal yang perlu dicatat, ketika Anda melihat “sudo” itu artinya perintah yang mengikutinya akan masuk dalam root terminal.
Boot komputer Anda dari live cd Ubuntu. Ketika sudah sampai area desktop, buka terminal (application-accessories-terminal)
Ketikkan kode berikut :

Sudo grub

Kode ini akan membawa Anda pada”grub>.” prompt. Pada Grub>, masukkan perintah ini :

Find/boot/grub/stage1

Perintah ini akan mencari lokasi instalasi linux Anda di mana terdapat file-file grub. Jika Anda punya lebih dari satu instalasi linux, pilih instalasi yang Anda inginkan untuk menyediakan file-file grub. Berikutnya, ini penting, apa pun yang ditemukan oleh perintah find tadi, gunakan perintah berikut pada baris berikutnya (Anda masih pada grub>. ketika Anda memasukkan tiga perintah berikutnya).

root (hd?,?)

Lagi, gunakan nilai dari perintah find tadi. Contoh : bila hasil dari perintah find adalah partisi no 1, maka kode yang Anda ketikkan adalah “root (hd0,1). Selanjutnya masukkan perintah untuk menginstall grub pada partisi mbr :

setup (hd0)

terakhir, keluar dari grub shell.

quit

Sekarang, grub sudah terinstall pada mbr. Ketika Anda reboot, Anda akan melihat grub menu saat startup.

Penjelasan

  • “sudo grub” membawa Anda pada grub shell.
  • “find/boot/grub/stage1″ memerintahkan grub menentukan lokasi file stage1. Hal Ini menunjukkan kepada Anda di mana file-file grub berada. Hanya sebagian kecil grub berada pada mbr, selebihnya ada pada folder grub Anda, yaitu pada partisi di mana instalasi linux berada. Grub memerlukan file-file tersebut untuk menjalankan setup. Maka Anda cari dan temukan file-file tersebut lalu Anda beritahukan pada grub di mana lokasi file-file yang diperlukan untuk setup.
  • Selanjutnya perintah “root (hd?,?)” memberitahukan pada grub bahwa file-file tersebut ada pada partisi tersebut.
  • Terakhir, “setup (hd0) memberitahukan kepada kepada grub untuk melakukan setup grub pada partisi 0 (mbr). Ketika Anda memberikan kepada grub parameter hd0 tanpa nilai yang mengikuti suatu partisi, grub akan menggunakan partisi mbr. Hd0 adalah label grub untuk drive pertama mbr.
  • “quit” akan membawa Anda keluar dari grub shell.


Anda bosan dengan tampilan login Linux Anda yang itu-itu saja? Situs http://Art.gnome.org menyediakan berbagai theme dan wallpaper untuk Linux dengan sistem desktop gnome. Salah satu di antaranya adalah login screen theme. Anda dapat mendownload theme yang Anda inginkan lalu menginstallnya pada Linux Anda.

Berikut langkah-langkah menginstall login screen theme.

  1. Masuklah pada menu System-Administration-Login Window. Ini akan mengantarkan Anda pada jendela login. Sebelum jendela login tampil, kemungkinan Anda akan diminta memasukkan password terlebih dahulu. Ketikkan password Anda saat login linux pertama kali dan tekan enter.
  2. Kliklah tab local, kemudian klik tombol “+” yang berarti menginstall theme baru.
  3. Pada kotak dialog yang muncul pilihlah file theme pada folder tempat Anda menyimpan theme. Apabila telah terpilih, klik “Install”, maka theme akan terinstall pada Linux Anda. Ulangi langkah 1 sampai dengan 3 untuk menginstall theme yang lain.
  4. Pilih theme baru yang Anda inginkan menjadi login screen theme dengan mengklik tombol radio di sebelah kiri nama theme Anda.
  5. Langkah terakhir, klik “close”, dan tutuplah semua program yang sedang Anda buka, lalu klik “system-Quit”. Pilih Log Out. Maka tampilan jendela Login telah berganti dengan theme yang Anda pilih. Selamat mencoba.

CD Windows gratis? Mimpi kali ya. Untuk mendapatkan cd windows dan aplikasi windows komersial lainnya Anda harus merogoh kocek ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Sedangkan mendapatkan cd OS Linux gratis langsung dari pembuatnya dengan cara dikirim langsung ke tempat Anda, bukanlah mimpi! Anda hanya akan diminta membayar sekitar tujuh ribu rupiah, itu pun untuk mengganti biaya pos di Indonesia saja, tergantung pada lokasi di mana Anda berada.

Hal itu dibuktikan oleh Canonical melalui ShipIt Ubuntu. ShipIt adalah sistim distribusi cd Linux Ubuntu yang dilakukan oleh Canonical dengan mengirim cd Ubuntu gratis langsung ke tempat Anda setelah Anda memesannya pada situs Shipit Ubuntu. CD keluarga Ubuntu yang tersedia antara lain :

  • Ubuntu, yaitu CD Linux Ubuntu dengan sistem desktop GNOME, dengan ciri khas menu-menu untuk setiap aplikasi berada di atas layar. Untuk memesan cd Ubuntu Anda dapat mengunjungi situs : https://shipit.ubuntu.com.
  • Kubuntu, yaitu CD Linux Ubuntu dengan sistem desktop KDE, dengan ciri khas menu-menu untuk setiap aplikasi berada di bawah layar. Untuk memesan cd Kubuntu Anda dapat mengunjungi situs : https://shipit.kubuntu.org
  • Edubuntu, yaitu CD Linux untuk pendidikan, dengan sistem dektop GNOME. Untuk memesan cd Edubuntu silahkan kunjungi situs : https://shipit.edubuntu.org

Agar cd Ubuntu sampai ke alamat Anda, dibutuhkan waktu 4-6 minggu, tergantung lokasi di aman Anda berada. Apabila Anda ingin segera mendapatkan cd Ubuntu, Anda dapat mendownloadnya pada alamat http://www.ubuntu-id.org/ubuntu/download dan membakar iso cdnya. Untuk yang ini, tentu saja membutuhkan koneksi internet yang cepat. Atau Anda dapat mencoba alternatif DVD repository Ubuntu yang ditawarkan rekan-rekan di komunitas Ubuntu Indonesia. Selamat mencoba!

Keluarga Ubuntu-ID






Sejarah Linux

21Aug08

Siapa yang belum tahu Mandriva Linux? Siapa yang belum tahu Open Suse? Siapa yang belum tahu Red Hat? Bagi orang yang biasa berkecimpung di dunia komputer, khususnya Linux, maka nama-nama itu sudah tidak asing lagi di telinga. Namun tahukah Anda bahwa sebenarnya, Linux memiliki sejarah yang cukup panjang perjalanannya?

UNIX merupakan salah satu sistem operasi yang mengawali lahirnya Linux ke dunia ini. UNIX merupakan salah satu sistem operasi yang ada saat ini. Adapun UNIX merupakan salah satu sistem operasi populer selain keluarga raksasa Microsoft (mulai dari DOS, MS 9x sampai Vista), Novell, OS/2, BeOS, MacOS dan lainnya.

Sejarah kemunculan UNIX dimulai pada tahun 1965 ketika para ahli dari Bell Labs, sebuah laboratorium milik AT&T, bekerja sama dengan MIT dan General Electric membuat sistem operasi bernama Multics(sudah pernah dengar belum?). Nah, sistem operasi Multics ini awalnya didesain dengan harapan akan menciptakan beberapa keunggulan, seperti multiuser, multiprosesor, dan multilevel filesystem. Namun pada tahun 1969, AT&T akhirnya menghentikan proyek pembuatan Multics karena sistem operasi Multics ini sudah tidak memenuhi tujuan semula. Dengan kata lain, proyek ini mengalami hambatan karena dalam kenyataannya Multics banyak terdapat bugs dan sulit sekali dioperasikan.

Beberapa programmer Bell Labs yang terlibat dalam pembuatan dan pengembangan Multics, yaitu Ken Thompson, Dennis Ritchie, Rudd Canaday, dan Doug Mcllroy, secara tidak resmi tetap meneruskan proyek pengembangan Multics. Dan akhirnya sampailah pada sebuah sistem operasi generasi penerus dari Multics bulan Januari 1970 yang diberi nama UNIX.

Adapun generasi baru Multics ini memiliki lebih banyak keuggulan dibandingkan saudara tuanya. Nama UNIX diberikan oleh Brian Kernighan untuk memberi penegasan bahwa UNIX bukanlah Multics (tidak sama). UNIX akhirnya memiliki keunggulan seperti yang diharapkan pada awal penciptaannya. Yaitu:

1. Multilevel Filesystem

2. Multiuser dan Multiprosesor

3. Desain arsitektur yang independen terhadap suatu hardware

4. Berbagai device dapat dianggap sebagai file khusus

5. Memiliki user interface yang sederhana

6. Cocok untuk lingkungan pemrograman

7. Memiliki utilitas yang dapat saling digabungkan

Setahun setelahnya, UNIX dapat dijalankan pada komputer PDP-11 yang memiliki memory 16 KB dan sebuah disk berukuran 512 KB. Pada waktu itu source codenya UNIX masih ditulis dalam bahasa mesin (assembler). Kemudian pada tahun 1973, source code UNIX ditulis ulang dalam bahasa C yang dibuat oleh Dennis Ritchie.

Tujuan Mr. Ritchie mengubah source code UNIX ke dalam bahasa C tak lain dan tak bukan karena bahasa C didesain multiplatform dan bersifat fleksibel. Dengan dirubahnya source code ke dalam bahasa C, maka UNIX dapat dikembangkan dan dikompilasi ulang ke berbagai jenis komputer. Sejak saat itu dibuatlah berbagai macam varian UNIX yang sengaja didesain untuk jenis komputer tertentu.

Setahun kemudian, karena merasa UNIX sudah cukup matang, maka Thompson dan Ritchie mempublikasikan sebuah paper tentang UNIX. Ternyata UNIX mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari lingkungan perguruan tinggi. Dan UNIX lah yang menjadi sistem operasi favorit di lingkungan perguruan tinggi.

Awalnya, sistem operasi UNIX ini didistribusikan secara gratis di dunia pendidikan, namun setelah banyak digunakan oleh korporasi industri dan bisnis (karena kehandalannya menangani bidang jaringan (networking), UNIX akhirnya diperdagangkan dan dipatenkan). Dalam perkembangan selanjutnya, UNIX dan varian-variannya yang dikomersialkan menjadi suatu sistem operasi yang cukup mahal pada saat itu(namun ada beberapa yang gratis karena dikembangkan dengan semangat openSource), hal ini disebabkan karena kestabilan, mampu mengerjakan program multitasking dan dapat digunakan oleh beberapa user secara bersamaan.

Adapun varian UNIX yang dikomersialkan dan populer karena kehandalannya seperti BSD 4.1 (1980), SunOS, BSD 4.2, SysV(1983), UnixWare dan Solaris 2(1988), dan lainnya. Dan yang dikembangkan dengan semangat openSource atau free diantaranya: FreeBSD, OpenBSD, NetBSD, Mnix, Hurd

Dari tadi ngomongin UNIX mulu, Linuxnya di mana? Oke, oke. Kita mulai…..

Kenal Linus Torvalds kan? Linus dilahirkan di Helsinki, Finlandia pada tanggal 28 Desember 1969. Orang yang disebut sebagai Bapak Linux(LINus UniX) ini, sudah mengenal bahasa pemrograman pada umurnya yang ke 10. Saat itu ia sering mengutak-atik komputer kakeknya, Commodore VIC-20. Karena hobinya dalam dunia komputing, 1988 Linus diterima di Univerity of Helsinki dan pada tahun 1990, Linus memulai kelas pemrograman C pertamanya. Pada tahun 1991, Linus tidak puas terhadap sistem operasi yang ada pada PC pertamanya (MS-DOS atau Disk Operation System), OS buatan Microsoft.

Linus lebih cenderung untuk menggunakan sistem operasi UNIX seperti yang dipakai komputer milik universitasnya. Akhirnya ia mengganti sistem operasi openSource Minix yang berbasiskan UNIX. Adapun Minix ini merupakan sistem UNIX kecil yang dikembangkan oleh Andrew S. Tanenbaum, seorang professor yang menggeluti penelitian masalah OS dari Vrije Universiteit, Belanda. Adapun Minix ini digunakan untuk keperluan pengajaran dan pendidikan.

Namun Linus merasa bahwa Minix masih memiliki banyak kelemahan. Dan mulai saat itu, di usianya yang ke-23, Linus mulai mengutak-atik kernel Minix. Dan ia mulai mengembangkan sistem yang kompatibel dengan IBM PC. Pada bulan Agustus 1991, lahirlah Linux 0.01 hasil oprekan Linus, dan pada tanggal 5 Oktober 1991, secara resmi Linus mengumumkan Linux 0.02 yang hanya dapat menjalankan BASH dan gcc compiler. Selain itu, Linus juga mempublikasikan sistem operasi buatannya tersebut lengkap dengan source codenya, yang ternyata disambut dengan sangat antusias oleh para programmer dan developer di seluruh dunia agar dapat di develop bersama-sama.

Sampai saat ini, Linux dibangun oleh berbagai macam komunitas dan jangan heran apabila banyak sekali distro-distro Linux yang beredar. Mulai dari yang berbayar sampai yang gratis, dari untuk pemula sampai tingkat lanjut, dan biasanya dengan banyaknya distro Linux yang beredar akan membuat orang awam bingung untuk memilih distro. Bayangkan, ada beratus-ratus distro yang tercipta atau bahkan beribu-ribu. Namun perlahan tapi pasti, diantara distro-distro Linux ini ada yang menyamai (atau bahkan) melebihi kemampuan dari Sistem Operasi keluarga raksasa (Microsoft) dan dengan semakin mudahnya dan semakin lengkapnya dukungan Linux pada hardware, besar kemungkinan Linux akan menjadi alternatif (atau bahkan sistem operasi utama di dunia). InsyaAllah bila tidak ada halangan, saya akan memberikan tips-tips memilih distro Linux.

Referensi:

Sofana, Iwan. 2006. Mudah Belajar Linux. Bandung: Informatika

http://www.thinkgeek.com/books/nonfiction/38b2/ http://www.softpanorama.org/People/Torvalds/linus_finland_period.shtml http://www.thocp.net/biographies/torvalds_linus.html